Rabu, 09 Agustus 2017

Surat Untuk Diriku di Masa Depan

Surat ini kutuliskan untuk diriku dimasa depan. Agar nanti aku tidak lupa diri.
Hai diriku, selamat untuk usia yang membawamu mengenal banyak hal. Jangan lupa tentang masa kecilmu yang berlari-lari di pematang sawah dan mencari kayu bakar. Perlu kuingatkan hal ini padamu, supaya kamu tidak menjadi angkuh.

Hai diriku, ketika menulis surat ini aku sedang membayangkan diriku sedang berdiri di depan kelas, membagi setiap hal yang bisa kubagi kepada mahasiswa-mahasiswa beruntung. Kau sendiri paham, cita-citaku adalah menjadi seorang dosen. Aku tidak tau takdir seperti apa yang disuratkan Tuhan padaku. Saat ini aku sedang bermimpi tentang itu.

Hai diriku, masa kecilmu bahagia. Jadi jangan pernah sakiti orang lain. Semua cinta yang kau dapatkan melalui celotehan ibu dan nasehat bapak, kuharap kau bagi untuk orang-orang di sekitarmu. Semoga engkau bersedia rendah hati agar cinta selalu mengelilingimu.

Hai diriku, apakah saat ini kau sedang merindukan ibu dan bapak? Ketika surat ini kutulis, aku sedang bersama mereka. Barusan aku baru saja memijit punggung ibu. Katanya punggungnya sakit karena tiga hari ini memupuk jagung di ladang kita. Aku tidak tau kau sedang apa ketika membaca surat ini kembali. Namun kupastikan kau sedang merindukan mereka.

Hai diriku, beberapa hari yang lalu bapak berpesan agar kelak anak-anaknya tidak lupa berdoa dan bersyukur setiap waktu. Sudahkah kau ikuti nasehat bapak hari ini? Jika tidak, maka ingat-ingat lagi pesan bapak yang lalu-lalu, ku harap kau mengharu biru.

Hai diriku, kau pasti sudah kenal betul karakter ibu. Ibu seorang yang sabar. Mengapa tidak mencontoh sabar ibu? Mungkin saat kau membaca surat ini kembali, kau sedang dalam keadaan putus asa. Ingatlah sosok ibu, semoga hatimu sekuat hati ibu.

Hai diriku, aku sedikit bercerita tentang keadan saat ini. Kakak baru saja menikah. Adik masih semester 5, ibu sedang tidur sangat nyenyak setelah kupijit, bapak sedang menonton acara tinju di televisi. Tadi pagi kita berempat berkumpul di dapur dan bercerita beberapa hal. Kau pasti rindu suasana hari ini kan? Namun waktu tidak pernah berjalan mundur. Keadaan hari ini tidak akan pernah terulang persis sama.

Hai diriku. Kuharap nasib baiklah yang bersamamu. Seperti doa-doa bapak dan ibu setiap ulang tahun, agar anaknya menjadi kebanggaan dan berguna bagi orang lain. Ketika membaca surat ini kembali, ku harap kau kenang setiap masa-masa sulit yang telah kau hadapi, agar semangatmu tidak pernah padam dibunuh jenuh.

Hai diriku, ketika menulis surat ini, aku sedang tidak bisa tidur. Aku sedang memikirkan cara agar bisa mendapat beasiswa LPDP untuk S2 di Yogyakarta. Kau sendiri tau, keuangan keluarga kita sedang  minus, bagaimana mungkin kuharapkan uang ibu bapak untuk mengejar S2. Oleh karenanya aku sedang berpikir keras untuk itu. Mungkin nanti, ketika membaca surat ini kau berucap dalam hati. Ini diriku, dengan gelar master. Aku telah menaklukkan mimpiku.

Hai diriku, ini surat pertama yang kubuat untukmu di masa depan. Jika tidak sibuk, akan kulanjutkan menulis surat berikut untukmu. Sebagai pengingat agar kau tidak menjadi sombong.

Liria Lase,
Pasar Usang
10 Agustus 2017
00.29 am